Sebelum Memilih


Kamu pasti tahu rasanya jatuh cinta, lalu ingin menjadi yang terbaik baginya, menjadi sosok yang bisa membuat ia bangga. Tapi bukankah seperti hitam dan putih, kita punya sisi yang barangkali akan membuatnya kecewa, lalu alih-alih berusaha jujur, kita hanya ingin menyembunyikannya.

Hanya sempurna yang ingin kita tampakkan, kita terlena dan lupa bahwa mencintai bukan sekedar euforia jatuh cinta, ia tentang mencintai separuh diri yang rapuh, lemah yang kadang butuh sandaran, sifat kekanakkan yang butuh pelukan, dan segala sisi yang menjadikan kita manusia, ketidaksempurnaan kita.  Continue reading “Sebelum Memilih”

Iklan

Restu

Resah gelisah gemuruh rindu di dada
Aku dan keinginan mencintaimu
Aku ingin mencintaimu dalam keleluasaan
Tapi warasku inginkan kita untuk saling menjaga
Sebab aku ingin mencintaimu lebih dari ini
Lebih dari sekedar kata rindu
Lebih dari perhatian dibalik layar gawai
Aku ingin mencintaimu dalam kebebasan yang diperkenankan Tuhan
Maka menjauhkanmu dari ketidakmampuanku menjaga gelisah rindu adalah cara yang paling dewasa
Walau sesak rindu melemahkanku
Sebab aku ingin mencintaimu lebih dari ini
Dalam tenang memilikimu sebagai separuh diri
Dalam damai yang diizinkan pencipta kita
Serta restu bapak ibumu.


Versi 2

Aku ingin mencintaimu dalam keleluasaan
Tapi warasku inginkan kita untuk saling menjaga
Sebab aku ingin mencintaimu lebih dari ini
Lebih dari sekedar kata rindu
Lebih dari perhatian dibalik layar gawai
Aku ingin mencintaimu dalam kebebasan yang diperkenankan Tuhan
Sungguh aku ingin mencintaimu lebih dari ini
Dalam tenang memilikimu sebagai separuh diri
Dalam damai yang diizinkan pencipta kita
Serta restu bapak ibumu.

©Rissaid


Tentang rindu dan cinta yang menahan diri, tentang keinginan memiliki dengan bahasa cinta yang memilih untuk menjaga.

Sosok dibalik Layar

Bagi beberapa orang, Dilan itu cinta, sedang bagi yang lainnya Dilan tidak lebih dari sekedar pemicu rasa muak, dua-duanya sederhana urusan selera, ada yang menikmati, ada yang bosan memandangi isi timeline dengan rindu itu berat, kamu gak akan kuat, semacam para realis yang mengabaikan sekedar gombalan.

Uniknya, saya berada pada garis abu-abu diantara keduanya, sebagai penikmat musik film Dilan tapi juga yang merasa miris ketika Dilan dipilih sebagai film untuk ditonton bersama oleh Kemendikbud, semacam rasa cemburu dan kecewa ketika saya rasa film-film seperti Laskar Pelangi, Tanah Surga Katanya lebih berhak untuk itu.

Tapi kekecewaan itu tidak serta merta membuat saya lantas mengutuki film Dilan, ia adalah benang merah yang mempertemukan saya dengan seorang bloger perempuan yang suka menulis puisi, seorang Audhina. Audhina diantara kewarasan, kenekatan, dan barangkali sedikit usil mencari cara menghabiskan weekend dengan cara yang lebih mengenang memutuskan untuk ke Bandung dari Sukabumi untuk menonton Dilan.

Audhina benci digerogoti rasa penasaran, barangkali itu alasannya, tapi ia memang penikmat buku Pidi Baiq sejak lama, lagipula sudah lama sejak ia punya hari libur dari bekerja, menikmati Bandung bukan sekedar tentang Dilan, ia mengunjungi kerabat, dan sebutlah saya beruntung, saya pun dikunjunginya.

Pertemuan itu kami habiskan dengan berbincang, menikmati suguhan ala kadarnya. Pertemuan itu menjawab tentang siapa Audhina, sosok yang seringkali terlihat melonkolis ditiap tulisannya ternyata seorang gadis ceria dengan perawakan tinggi manis. Audhina pandai mencairkan suasana, kami banyak tertawa dan menikmati suasana sampai harus menyayangkan waktu yang berlalu.

Pertemuan kami tersebut, saya dan Audhina, ternyata mengundang seseorang yang juga suka menulis puisi di blognya, seorang Quree yang sempat menggoda ingin bertemu kami berdua. Setelah sebelumnya, beberapakali alam semesta semacam belum sepakat untuk memberi kami sebuah pertemuan, akhirnya saya dan Quree bertemu, lagi-lagi saya diberi kejutan bahwa seseorang yang melankolis dalam tulisannya ternyata seorang yang ceria, bahwa tulisan sebagai karya seni tidak melulu harus melekat sebagaimana karakternya, kita dapat melebur menjadi jiwa yang lain dalam sebuah tulisan, semacam alter ego dalam keisengan barangkali.

Dua perempuan tadi, sama-sama spesial dalam tulisan dan cara tertawanya, mereka sama-sama tinggi, sama-sama mampu menenggelamkan saya dalam rangkulan, hehe. Keduanya sama-sama sudah berbaik hati untuk meluangkan waktu untuk sebuah temu, dan bahwa seseorang yang dibalik layar memang selalu penuh dengan kejutan.

Terimakasih Audhina dan Quree. 🙂