Restu

Resah gelisah gemuruh rindu di dada
Aku dan keinginan mencintaimu
Aku ingin mencintaimu dalam keleluasaan
Tapi warasku inginkan kita untuk saling menjaga
Sebab aku ingin mencintaimu lebih dari ini
Lebih dari sekedar kata rindu
Lebih dari perhatian dibalik layar gawai
Aku ingin mencintaimu dalam kebebasan yang diperkenankan Tuhan
Maka menjauhkanmu dari ketidakmampuanku menjaga gelisah rindu adalah cara yang paling dewasa
Walau sesak rindu melemahkanku
Sebab aku ingin mencintaimu lebih dari ini
Dalam tenang memilikimu sebagai separuh diri
Dalam damai yang diizinkan pencipta kita
Serta restu bapak ibumu.


Versi 2

Aku ingin mencintaimu dalam keleluasaan
Tapi warasku inginkan kita untuk saling menjaga
Sebab aku ingin mencintaimu lebih dari ini
Lebih dari sekedar kata rindu
Lebih dari perhatian dibalik layar gawai
Aku ingin mencintaimu dalam kebebasan yang diperkenankan Tuhan
Sungguh aku ingin mencintaimu lebih dari ini
Dalam tenang memilikimu sebagai separuh diri
Dalam damai yang diizinkan pencipta kita
Serta restu bapak ibumu.

©Rissaid


Tentang rindu dan cinta yang menahan diri, tentang keinginan memiliki dengan bahasa cinta yang memilih untuk menjaga.

Iklan

Sosok dibalik Layar

Bagi beberapa orang, Dilan itu cinta, sedang bagi yang lainnya Dilan tidak lebih dari sekedar pemicu rasa muak, dua-duanya sederhana urusan selera, ada yang menikmati, ada yang bosan memandangi isi timeline dengan rindu itu berat, kamu gak akan kuat, semacam para realis yang mengabaikan sekedar gombalan.

Uniknya, saya berada pada garis abu-abu diantara keduanya, sebagai penikmat musik film Dilan tapi juga yang merasa miris ketika Dilan dipilih sebagai film untuk ditonton bersama oleh Kemendikbud, semacam rasa cemburu dan kecewa ketika saya rasa film-film seperti Laskar Pelangi, Tanah Surga Katanya lebih berhak untuk itu.

Tapi kekecewaan itu tidak serta merta membuat saya lantas mengutuki film Dilan, ia adalah benang merah yang mempertemukan saya dengan seorang bloger perempuan yang suka menulis puisi, seorang Audhina. Audhina diantara kewarasan, kenekatan, dan barangkali sedikit usil mencari cara menghabiskan weekend dengan cara yang lebih mengenang memutuskan untuk ke Bandung dari Sukabumi untuk menonton Dilan.

Audhina benci digerogoti rasa penasaran, barangkali itu alasannya, tapi ia memang penikmat buku Pidi Baiq sejak lama, lagipula sudah lama sejak ia punya hari libur dari bekerja, menikmati Bandung bukan sekedar tentang Dilan, ia mengunjungi kerabat, dan sebutlah saya beruntung, saya pun dikunjunginya.

Pertemuan itu kami habiskan dengan berbincang, menikmati suguhan ala kadarnya. Pertemuan itu menjawab tentang siapa Audhina, sosok yang seringkali terlihat melonkolis ditiap tulisannya ternyata seorang gadis ceria dengan perawakan tinggi manis. Audhina pandai mencairkan suasana, kami banyak tertawa dan menikmati suasana sampai harus menyayangkan waktu yang berlalu.

Pertemuan kami tersebut, saya dan Audhina, ternyata mengundang seseorang yang juga suka menulis puisi di blognya, seorang Quree yang sempat menggoda ingin bertemu kami berdua. Setelah sebelumnya, beberapakali alam semesta semacam belum sepakat untuk memberi kami sebuah pertemuan, akhirnya saya dan Quree bertemu, lagi-lagi saya diberi kejutan bahwa seseorang yang melankolis dalam tulisannya ternyata seorang yang ceria, bahwa tulisan sebagai karya seni tidak melulu harus melekat sebagaimana karakternya, kita dapat melebur menjadi jiwa yang lain dalam sebuah tulisan, semacam alter ego dalam keisengan barangkali.

Dua perempuan tadi, sama-sama spesial dalam tulisan dan cara tertawanya, mereka sama-sama tinggi, sama-sama mampu menenggelamkan saya dalam rangkulan, hehe. Keduanya sama-sama sudah berbaik hati untuk meluangkan waktu untuk sebuah temu, dan bahwa seseorang yang dibalik layar memang selalu penuh dengan kejutan.

Terimakasih Audhina dan Quree. 🙂 

Dialog Dua Kawan Tentang Hati.

“Ri, sadar gak sih, kalau dalam semua atau hampir tiap Agama yang diakui di Indonesia, perempuan itu begitu dimuliakan..”

“Tau dari mana? kan kita enggak pernah belajar semua agama satu-satu, Nis..”

“Tapi kan kita bisa perhatiin secara sekilas, seperti bagaimana kita diminta untuk menutupi aurat dalam Islam, Biarawati dalam kepercayaan Katolik serta Attasilani dalam kepercayaan agama Buddha juga sama-sama menutupi aurat..”

“Iya juga ya, seorang Biarawati tertutup dari bawah hingga atas, seorang Attasilani juga begitu, tapi bagaimana dengan Hindu, Nis? sepertinya mereka berbeda..”

“Tapi Hindu juga begitu memuliakan perempuan Nis, walau mereka berbeda dalam perihal menutup aurat, mereka memiliki konsep Tri Kaya Parisuda, konsep yang  membahas tentang membungkus diri dari dalam, tentang karakter kita, Ris..”

“Terus, hubungan antara kesamaan menutup aurat tadi apa, Nis?”

“Ketiganya sama-sama mengumpamakan perempuan itu sebagai berlian, Nis. Harus dijaga, harus dilindungi, begitu berharga. Bukankah itu salah satu bentuk memuliakan perempuan? Dalam Islam pun, Rasulullah berkata  ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu, kita begitu dimuliakan Nis, bahkan dalam agama Hindu pun, kedudukan lelaki dan perempuan itu sama dalam mantra Weda pun sloka-sloka agama Hindu..”

“Tapi kenapa kita tiba-tiba bahas ini semua, Nis?”

“Karena aku bosan ngelihat kamu begitu terus, sebut aku jahat, tapi sampai kapan menangisi lelaki yang bukan mahramnya?”

“Kamu kok jahat, tapi tetap aja gak nyambung sama hal-hal yang kamu jelasin tadi..”

“Nyambung banget atuh Ris, gini deh, dalam semua agama tadi, kita, perempuan itu teramat dimuliakan, jadi kenapa sekarang kita mudah banget menangisi hati yang patah? lelaki yang pergi sedangkan hakikatnya kita ini diperjuangkan, sebagaimana berlian itu eksklusif untuk didapatkan..”

“Tapi kan namanya juga patah hati, Nis, masa aku gak boleh baper? masa gak boleh nangis, ini kan Hati nis, pake perasaan, apalagi cinta…”

“Iyasih, tapi beda loh sedih karena sendu melagu yang dibiarkan, kamu yakin udah berusaha sebaik-baiknya untuk move on? gini deh, udah hubungan kalian berakhir, investasi perasaan kamu sia-sia, kamu dapat apa dari mengenang? kamu justru lagi mainin hati kamu sendiri  dengan tenggelam dalam nostalgia, Ris..”

“Iyasih Nis, tapi kamu kan pasti pernah berada di masa seperti ini, kamu paham kan, aku juga gak mau kaya gini, mampir ke tempat yang kita pernah sama-sama kesana malah keingat dia, dengerin lagu yang pernah kita dengerin bareng jadi baper, apalagi kalau lihat dia lagi ngobrol sama perempuan lain, sakit banget Nis, masa mudah banget sih buat dia lupa..”

“Justru karena aku pernah berada diposisi kamu Ris, aku sekarang bisa nengok ke belakangan, bahkan tertawa, karena apa yang aku lakuin itu justru bukan bentuk cinta, kita sering merasa mencintai seseorang dan berat untuk melupakannya, tapi aku sadar, aku harus sayang sama diriku sendiri dulu, melepaskan semua hal yang gak bikin aku bahagia, ngangenin seseorang yang berlalu itu cuman memberatkan hati Ris, kasian hati..”

“Jadi, kamu bisa melupakan? gak semua orang kayak kamu, Nis…”

“Aku bilang melepaskan Ris, bukan melupakan, kita ini manusia, mahluk pengumpul memori, hal-hal yang kita bencipun masih bisa menetap di memori dan sesekali menggelitik ingatan kita, aku masih ingat patah hati pertamaku, aku masih ingat patah hati terhebatku, aku masih ingat semuanya, dan aku rasa kita emang harus ingat, biar kita gak melakukan kesalahan yang sama lagi..”

“Tapi katamu, setiap hati yang patah itu gak sama Nis, jadi bukannya gak bisa disamain antara patah hati dan proses move on kamu sama aku atau yang lainnya?..”

“Tiap hati yang patah itu sama-sama butuh segera diobati Ris, mungkin waktu yang dibutuhkan untuk sembuh itu beda tiap orang, tapi usaha mengobatinya harus sama besarnya, nah, kamu udah berusaha sampai mana?”

“Iyasih ya, kira-kira bakal makan waktu setahun gak ya?”

“Huh, manusia itu lucu ya, giliran sakit yang lain maunya cepat sembuh, andai sehari bisa untuk sembuh, kayak kamu kalau lagi sakit gigi maunya habis nelan obat langsung kelar sakit giginya, giliran patah hati, malah mereka-reka waktu yang lama untuk sembuh..”

“Namanya juga hati! kan gigi gak pake perasaan, Nis!..”

“Tapi sakit gigi juga berasa banget kan? haha, tau gak sih quote mending sakit hati ketimbang sakit gigi…”

“Ya mending gak dua-duanya kali, Nis! Ih, gimana sih!..”

“Ya makanya sikat gigi, hati juga dipagarin, jangan gigi aja…”

“Jahat deh emang kamu tuh, tau aku lagi sakit dua-duanya…”

“Akutuh emang harus jahat, perempuan kalau lagi patah hati kupingnya tuh tebel, sukanya dengerin lagu mellow aja, kayak kamu tuh, sebenarnya yang sabar itu aku tau, bukan kamu..”

“Ih kok gitu, kan yang terluka aku!”

“Iyalah, secara aku tiap malam harus dengerin kamu nangis, terus ngulangin percakapan kita gini kayak kaset yang diputar berulang-ulang, bisa gila tau, untung aku sayang..”

“Makanya aku habis ini mau traktir kamu Mie Ayam…”

“Awas aja ke langganan mie ayam tempat kalian kencan,terus abis itu cerita baper-baperan lagi..”

“Enggak, enggak…soalnya dia gak suka mie ayam..”

“Ih, masih aku lihatin ya, belom aku sliding?!”


Tahu gak kalau jatuh cinta itu butuh keberanian? jadi aku percaya kamu kuat dan berani, makanya aku juga percaya kalau kamu bisa melewati ini semua, jangan sedih lama-lama karena tiap perempuan berhak untuk bahagia, dan bahagia tidak pernah tentang mencintai satu lelaki bahkan setelah dia pergi, kamu itu begitu mulia, calon ibu yang selalu dimuliakan Tuhan. Lekas tersenyum kembali, dan jatuh cinta pada dirimu sendiri, kamu harus sembuh,  karena setiap orang butuh untuk menangkap jatuhnya sendiri, kamu harus jadi rumah bagi dirimu sendiri. 🙂